DEPOKONE, Lebakbulus – Lewat tayangan videonya, siswi Erudio School of Art (ESoA) Jl Lebakbulus, Jakarta, Syifa Mahala Adjani, mengisahkan tentang pembulian dengan goresan-goresan cat dan huruf-huruf sebagaimana goresan ala graffiti.
Bullying adalah tindakan bully, kekerasan plus cemooh yang memperlihatkan derita generasi muda, para siswa senior yang melakukan perlakuan negative pada siswa senior, yang kuat terhadap yang lemah, yang bertubuh besar terhadap yang bertubuh kecil. Kendati dalam visual untuk medium seni rupanya, Syifa menampilkan baju dengan kayu yang dijadikan sebagai hiasan, karya videonya terasa lebih mencekam.
Karya video dan seni rupa digelar di koridor sekolah mereka adalah bentuk kampanye remaja terhadap umat manusia dan lingkungannya.Tayangan video Muhammad Dimas Arga Wicaksono terasa lebih menyentuh dengan menayangkan boneka kecil dan mungil yang berjalan ke pelukan boneka besar yang menjadi simbolik orangtua. Dalam karya seni rupa, seniman remaja yang kerap disapa Dimas ini menampilkan boneka kayu yang setiap bagian tubuhnya dikaitkan dengan kawat lengkung berkait, yang juga tampil di video dengan gerakan seolah seorang bayi. Baik dalam medium video mau pun karya seni rupa, Dimas seakan memperingatkan orang dewasa untuk bertindak lebih perduli pada bayi dan kanak-kanak.
Beragam cara manusia menunjukan respon terhadap lingkungan khususnya kehidupan manusia yang lain. Penciptaan baik karya seni, karya intelektual bahkan penemu teknologi kerap saling mendukung dan saling bersilang dan berdebat untuk menghasilkan karya fungsional dalam sejarah umat dunia.
Kesadaran pada dunia bacaan, termasuk media cetak – di samping keberadaan televise, radio dan internet – mengilhami Jaggro Jingga Muhammad untuk menyumbang kemudahan dalam aktivitas kerja seorang pembaca koran atau buku ketika menggarisbawahi kalimat atau artikel yang penting.
“Penemuan” yang dihasilkan oleh seorang siswa Jaggro seolah tampak sederhana. Dengan menggunakan kawat disangkutkan pena dan menyelubungi ibu jari, seorang pembaca koran dapat menandai bacaannya tanpa perlu menggunakan stabillo yang mengganggu konsentrasi pada media. Konsep dia dalam menciptakan karya ini: …saya mencoba untuk membuat suatu produk yang bisa merespon dan membantu isu tersebut. targetkannya utamanya untuk pembaca. untuk bisa mencerna bacaan dengan lebih mudah, saya membuat marker untuk menghilighthal-hal yang penting saat membaca. Bagaimana alat ini tidak jauh-jauh dari medianya. Yaitu yang paling dekat dengan tulisannya adalah jari-jari. Marker ini bisa di pasang pada jari agar lebih mudah untuk meraih kata-katanya. Diharapkan dengan alat ini pembaca bisa lebih mudah untuk merangkum dan mencerna baca-bacaan tersebut…
Bisa jadi juga, karya Jaggro justru untuk menyindir kondisi global tentang dunia saat ini. sorot-menyorot di dunia media, kecepatan untuk saling bergunjing, di tengah bumi yang sudah mengkerut dan dilipat sehingga sempit sesempit kotak donat. Palestina, Sarajevo, atau sebutlah Amerika kini ada di tayangan computer atau pun televise di dalam ruang tamu rumah kita.
Karya kampanye lewat video dan seni rupa yang dihasilkan dalam pameran ini bukan hadir dalam bentuk hasil penemuan, namun hampir kesemua karya siswa ini merupakan respon mereka terhadap dunia, manusia dan lingkungannya dengan berbagai cara. Selain Jaggro, “karya kampanye” Azra Sahira Dereinda yang menampilkan alat filter air , juga cukup telak usaha eksplorasi sekaligus responnya pada alat-alat yang pernah dicipta manusia.
Pameran yang dilakukan para seniman muda yaitu para siswa Erudio School of Art di sekolah mereka yang terletak di Jl. Lebak Bulus I Jakarta sejak pertengahan Mei 2016 ini pun adalah usaha imajinatif karya mereka dalam menghasilkan karya fungsional sekaligus estetik untuk diterapkan dan menjadi bagian dari kebudayaan manusia. Baik dalam ukuran yang sesungguhnya mau pun miniature, inilah karya dan usaha mereka untuk sensitif terhadap problem sosial di sekitar mereka.
Selain video, dalam karya seni rupanya, Karsa Hartanto menciptakan bentuk dompet yang khas sebagai wujud keperduliannya pada para kaum pap, gelandangan dan orang jalanan sehingga ketika pengunjung menyaksikan karya Karsa pastilah kampanyenya cukup efektif ketika membuat kita berpikir sudah cukup idealkah dompet kita terhadap sesama manusia di sekeliling kita? Daffa Farrel Dewantara mengkritik koruptor dengan simbolik yaitu menampilkan lampu sorot atau lampu belajar dengan kotak kayu berlubang mengingatkan orang pada tabungan atau investasi.
Karya video siswa lainnya juga cukup menarik seperti Jennifer yang menampilkan tentang pertumbuhan anak yang dikekang oleh ekspektasi kelewat tinggi oleh kedua orang tuanya. Orang tua seringkali mengharapkan anaknya untuk sempurna di segala hal, Sehingga membuat anak itu tidak bahagia dan stres.
Video Seroja Sekarkantini Wibisono mengajak kita untuk mengetahui bahwa ada begitu banyak makanan lokal yang tidak kalah enak dengan makanan luar, tayangan itu seakan mengingatkan bahwa seni bukan hanya sekedar visual, tapi juga citarasa. Pragyata Ruwaydaa Lavelle atau biasa disapa Gya, dalam karya videonya mengajak kita untuk menghormati orangtua di sekitar kita. Zahra Chinintya Rachman di videonya mengingatkan berhati-hatilah dalam beropini agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Safira Aini mengkritisi teknologi terutama pemakaian gadget sehingga membuat kita lupa waktu dan lupa pada semua orang di sekeliling kita termasuk guru dan orangtua.
Selain merespon lingkungan, penyakit sosial seperti korupsi, Radif Ariapratama malah kembali menekankan pentingnya tradisi dan kehidupan bergotong royong. Untuk soal kerjasama, Radif kemudian memilih serigala sebagai obyek topengnya karena merasa cocok dengan perilaku hewan ini. Dia menganggap topenglah yang pas untuk sikap homo socious dari umat manusia. Bagi Radif, “serigala adalah hewan yang hidup berkelompok, jenis ini pun mementingkan kerjasama”. Untuk mengeksplorasi karya topeng, dia sempat melakukan riset tentang budaya Indonesia yang memiliki khasanah topeng yang beragam. “Topeng-topeng Indonesia mempunyai keunikan masing-masing, semua budaya mempunyai hal-hal dan detil yang membuat topeng mereka tersendiri mempunyai arti yang berbeda-beda. Saya memilih topeng dari Jawa dan Bali, topeng-topeng Jawa sangat terlihat sederhana, detilnya tidak banyak tetapi dalam kesederhanaan itu, topengnya mempunyai arti arti yang sangat dalam. Topeng Bali memakai banyak detil dan kelihatan rumit dan dalam kerumitan topeng itu mempunyai cerita rumit tersendiri. Riset saya tentang topeng-topeng Bali membuat mata saya lebih terbuka tentang topeng-topeng saya yang saya biasa lihat sehari-hari,” tutur Radif.
Kampanye dan Publik
Di luar amatan karya individual mereka, karya kampanye siswa-siswi ini memang masih berada di dalam kelas. Karya kampanye umumnya banyak yang menekankan konsep happening arts, yaitu karya seni yang langsung berada di ruang public sehingga berhadapan langsung dengan masyarakat bahkan media public seperti menggelar tari flash mob, membuat coretan mural dan graffiti secara berkelompok hingga membuat instalasi raksasa sebagai representasi kegelisahan seniman terhadap kondisi sosialnya.
Meski masih berangkat dari teropong dan laboratorium individual, berangkat dari ruang privat, para seniman muda bahkan masih remaja ini, dengan beragam bentuk baik verbal mau pun non verbal, kesemuanya berusaha merespon dan bereaksi terhadap lingkungan di sekitar mereka. Ada apakah di sekitarmu dan sudah cukupkah kita berperan untuk kebaikan kehidupan sesama kita? Lewat medium video dan seni rupa, kampanye para siswa ESoA yang bermacam-macam agar masyarakat perdui terhadap lingkungan di sekitarnya, peradaban manusia di dunia ini, memang menarik untuk disimak.
(SIHAR RAMSES SIMATUPANG)