OLEH: DIANING WIDYA, novelis.
PAGI itu saya tengah merapikan meja makan ketika Mama Leli datang ke rumah dengan wajah gelisah. Saya menautkan kening dan bertanya-tanya dalam hati: apa yang terjadi. Sebab, dari rumah Mama Leli terdengar tangisan Farid. Mama Leli duduk dengan wajah kusut.
“Farid kenapa, Mama Leli.”
Sejenak ia diam. Lalu, ia berucap pelan sambil terisak, “Susah mandi, padahal sebentar lagi masuk sekolah.”
Saya menghela napas. Teringat waktu Rizki masuk duduk di Taman Kanak- kanak. Serba susah. Susah dibangunkan, susah mandi, susah makan pagi dan susah masuk sekolah. Setiap pagi merupakan ujian mental buat saya. Saya harus merayu-rayu Rizki agar mau masuk sekolah. Berbagai cara saya lakukan, dari menaikkan uang saku sampai janji jalan-jalan di hari Sabtu atau membelikan mainan apa saja.
Sekarang Rizki sudah jauh berbeda. Setiap saya bangunin, tak lama kemudian turun dari tempat tidur setelah sejenak mengeliat atau sejenak memeluk erat gulingnya. Saat itulah saya memberi kesempatan buatnya untuk bermanja-manja dengan gulingnya. Anak bukanlah kita, yang bisa melakukan segala hal dengan cepat. Anak mesti memiliki kesempatan menikmati masa kanak-kanaknya. Jangan dipaksa untuk melakukan ini dan itu. Toh, nantinya bila tiba waktunya dia akan mengerti tanggungjawabnya.
Saya terkejut sekaligus cemas mendengar suara tangis Farid yang makin kencang dan meraung-raung.
“Mama Leli,” ucapku dengan nada Tanya. Mama Leli langsung beranjak dari kursi dan keluar dari rumah. Namun ponselnya tertinggal di sofa. Saya menelan ludah sambil terus bertanya mengapa Farid menangis.
Tak lama, terdengar teriakan Mama Leli. Saya ambil ponsel Mama Leli yang tertinggal, lalu saya melangkah ke rumahnya yang persis di samping rumah saya. Di depan rumah, saya lihat suami Mama Leli keluar rumah buru-buru mengendarai sepeda motor. Wajahnya merah pertanda amarah.
Saya terus menuju rumah Mama Leli, mengucap salam di depan pintu rumah yang terbuka.
“Masuk Mama Fira,” ujar Mama Leli dengan terisak. Pelan saya melangkah. “Sini Mama Fira,” ujar Mama Leli lagi dengan lirih menahan tangis. Saya mendekat menuju ruang keluarga. Farid yang hanya mengenakan kaos dalam dan celana dalam masih sesugukan.
“Anak masih kecil dipukuli Mama Fira.” Mama Leli terisak sambil terus bicara dengan terbata-bata. Saya mendekat ke Farid. Saya berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya. Ya Tuhan, paha anak empat tahun itu yang putih penuh lebam warna merah. Ada tujuh bekas berbentuk garis lurus ke atas. Saya tercekat. Tak sanggup membayangkan sakit diderita Farid.
Saya jadi ingat pada si bungsu yang masih dua tahun. Saya membayangkan dia yang dipukuli ayahnya. Saya tak kuasa melihat Farid yang meringis kesakitan. Saya taruh ponsel Mama Leli di sampingnya sambil memberi isyarat bahwa ponselnya tertinggal di rumah. Lalu, saya pulang dan angsung menuju kamar Edgin. Ia tengah tertidur pulas. Saya menghampirinya dengan mencium pipinya yang lembut. Saya berjanji padanya tak akan menyakitinya.
Suami juga sering marah kalau saya lupa sehingga memarahinya atau berkata dengan nada keras sama anak-anak.
“Jangan ajari anak untuk berbuat kasar,” begitu ucap suami suatu ketika. Kami pun sepakat untuk membesarkan anak-anak tanpa kekerasan.
Saya berdiri lagi, tersenyum melihat Edgin. Pagi ini dia tidak ngompol di kasur. Sebelum tidur saya suka bilang ke Edgin, agar tidak ngompol. Kalau mau buang air kecil ke kamar mandi ya, Edgin akan mengangguk dan bilang ya, dengan mantap.
Saya berbalik arah ketika terdengar salam di depan. Mama Leli kembali, kali ini bersama Farid. Suaranya parau. Saya menemuinya. Ia menangis di hadapan saya, mengeluhkan sikap suami yang sering kasar dengan anak-anak.
“Saya harus bagaimana Mama Fira.”
Saya diam. Saya sama sekali tidak menyangka ayah Farid sedemikian kasar. Padahal, wajahnya sama sekali tidak menyiratkan bahwa ia seorang lelaki yang keras dan kasar.
“Kadang saya berpikir mau melaporkan ayahnya Komnas Snak.”
Saya tersenyum tipis.
“Mungkin ayahnya Farid sedang ada masalah Mama Leli, jadi marah ke anak.”
“Dia memang suka main tangan, Mama Fira.”
Saya bingung harus memberi pendapat apa. Tapi belum sempatr berkata apa-apa, Mama Leli kembali menyela. “Dia itu mudah marah, mudah memukul Farid.”
Saya menghel napas, memandangi Mama Leli yang tampak sedih dan terpuruk. Dipeluknya Farid. Ia belum memakai seragam sekolah. Farid memang tak mungkin masuk sekolah dengan lebam-lebam di pahanya. Saya pandangi anak yang sesungguhnya tidak nakal itu.
Saya teringat sebuah artikel yang mengungkapkan bahwa kekerasan bukan cara tepat dalam mengajari anak-anak. Kasih sayang, keterbukaan, memberi ruang luas bagi anak-anak untuk berpendapat dan menentukan sikapnya sendiri, menghargai mereka, serta menjauhkan diri dari melakukan kekerasan fisik dan psikologis, merupakan cara didik anak yang sehat.
Saya pandangi Farid, dan berpikir suatu saat akan menyelip artikel itu ke bawah pintu rumah Mama Leli. Agar ayah Farid membacanya. ***